Kegelisahan kader-kader HMI dikongres ke 28

“hidup dinegeri maling kita harus belajar manjadi maling, hidup dinegeri preman maka kita harus belajar menjadi preman”

kata-kata itu terus hinggap dalam fikiranku selama kongres HMI ini berlangsung.

Kongres HMI  sudah berjalan 10 hari, namun perjalanan sidang masih pleno 2, yaitu pandangan umum cabang-cabang terkait dengan LAPORAN PERTANGGUNG JAWABAN sdr. nur fajriansyah dan basri dodo, laporan yang hanya disampaikan hanya beberapa menit itu memancing kericuhan didalam forum sidang yang kemudian di ketok oleh presidium sidang secara sepihak kemudian kabur entah kemana. sungguh memilukan, kepengurusan yang dijalankan selama lebih dari 2 tahun dilaporkan hanya 2-5 menit oleh mereka berdua.

Dalam pandangan umum dari cabang-cabang-pun banyak yang menolak LPJ mereka, bahkan ada beberapa cabang yang menolak sekaligus memecat keduanya, karena dianggap telah melemahkan bahkan menghancurkan integritas dan independensi HMI selama kepengurusannya. persidangan terus dijalankan walau tersendat-sendat, panitia baik SC DAN OC PANASKO tidak stanbay diarena kongres, mereka diamankan sehingga kongres semakin kacau dengan tidak adanya tanggung jawab dari kepanitiaan. presidium sidang-pun yang notebene dari badko-badko HMI tidak ditempatkan di arena kongres, dan tidak ada peserta kongres yang tahu dimana mereka dikarantina, sehingga mereka tidak bisa melalukan persidangan sesuai dengan mekanisme yang ada.

Sungguh kongres terburuk dan terpuruk dalam sejarah perkongresan HMI, kekacauan dan anarkisme terjadi dimana-mana, penghancuran dan pencurian fasilitas kongres dilakukan oleh para romli yang dikomandani para oknum senior2 mereka. Inilah wajah buram HMI diera milenium. saat negeri ini butuh tangan-tangan profesional, cerdas dan memiliki kemandirian juga leadership dari para aktivis HMI, malah justru memperlihatkan anarkisme dan kebodohan juga pragmatisme mereka. Nilai-nilai yang selama ini menjadi kajian setiap kader HMI mulai dari komisariat hingga PBHMI, saat diarena kongres ini hilang tergerus pragmatisme, anarkisme dan kemunafikan yang luar biasa akut.

Muncul pertanyaan kemudian, apakah kader-kader HMI akan layak menjadi pemimpin negeri ini dimasa mendatang, jika saat proses dimasa mudanya sudah seperti ini, apakah ini memperlihatkan awal kehancuran dan kebangkrutan negeri ini?! HMI SUDAH BUBAR KAWAN! BERTEPUK TANGANLAH BAGI KALIAN YANG SELAMA INI MENGHARAPKAN BUBARNYA ORGANISASI INI, ORGANISASI YANG OKNUM ALUMNINYA banyak terjerat kasus korupsi dan mungkin mereka juga-lah yang telah membuat negeri ini semakin banyak hutangnya. Dan terjerat kemiskinan struktural yang sangat sistemik.

Namun bagi mereka yang masih berharap bahwa HMI mampu bangkit dan keluar dari masa keterpurukan dan masa kegelapan, mari kita merenung sejenak, ibda’ bin-nafsik, perbaiki perilaku diri dan mari perbaiki sistem perkaderan HMI, menghayati kembali nilai-nilai dasar perjuangan HMI yang telah dirumuskan oleh Cak Nur dkk. kemudian aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, mari kita lawan dan hancur kan para thoghut yang ada didalam himpunan ini, mari kita lakukan sekarang juga!

Dalam catatan terakhir saya, saya menghimbau pada para peserta kongres untuk tegas dan berani mengatakan mana yang hak dan mana yang bathil, walaupun itu sesama kawan sendiri bahkan senior yang telah membantumu selama berproses di himpunan ini. Lawan ketidak becusan PANASKO, baik SC, OC, PRESIDIUM SIDANG, MPK PBHMI, Dan tentunya pada dua orang biang kekacauan organisasi ini, nur fajriansyah dan basri dodo!

salam hijau hitam dariku

selama jantungku masih berdetak

selama darahku masih bisa mendidih terbakar semangat untuk kebenaran dan perbaikan himpunan

yakin usaha sampai kita berikhtiar

tulus ikhlas untuk HIMPUNAN MAHASISWA ISLAM

BERSAMA HMI UNTUK KEJAYAAN NEGERI

 

AHLAN EL-FAZ

INSTRUKTUR BPL PBHMI

sumber: http://ahlanelfaz.blogspot.com/2013/03/kegelisahan-kader-kader-hmi-dikongres.html

Indonesia Surplus Politisi, defisit Negarawan

Indonesia Surplus Politisi, defisit Negarawan.
Perbedaan antara Negarawan dan Politisi sangat sederhana, tampak didalam tabel yang saya buat dibawah ini

NEGARAWAN VS POLITISI
Memikirkan generasi berikutnya (Next Generation) Memikirkan Pemilu berikutnya (Next Election)
Berkorban utk Next generation Kadang-kadang Mengorbankan Next Generation
Bermental Melayani Bermental minta dilayani
Memikirkan kepentingan bangsa dan negara diatas kepentingan pribadi Memikirkan kepentingan pribadi dan kelompoknya
Berbuat tanpa pamrih menjalankan tugas dan kewajibannya tanpa gembar-gembor Berbuat dgn mengharapkan imbalan materi, menuntut hak tetapi tidak menjalankan kewajiban
Berpegang teguh pada prinsip, berintegritas tinggi (idealis sekaligus pragmatis) Tidak mempunyai prinsip dan gampang dibeli/disogok (opportunist)
Berani mengaku jika berbuat kesalahan, bahkan bersedia mundur tanpa diminta Merasa Selalu benar dan tidak mau mengaku jika berbuat kesalahan, mempertahankan kekuasaan dengan segala cara
Kekuasaan adalah amanah yg harus dipergunakan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat Kekuasaan adalah alat untuk memperkaya diri sendiri dan kroni-kroninya
Tidak gila hormat dan jabatan, memberikan kesempatan untuk generasi berikutnya Gila hormat dan selalu ingin disanjung (megalomania)
Non-partisan, merangkul semua golongan Mengutamakan Kepentingan Partai dan golongannya
Down-to-earth, low profile Elitist, angkuh
Berjiwa Nasionalisme luas (patriotist) Berjiwa Nasionalisme sempit (chauvinist)
Berpikir jangka panjang dan jauh ke depan (visioner) Berpikir jangka pendek dan tidak mempunyai visi
Membangun sistem untuk diteruskan penggantinya Membangun dinasti untuk mempertahankan status Quo
Walaupun besok langit akan runtuh, hukum harus ditegakkan Hukum adalah Panglima Memanipulasi hukum untuk kepentingan pribadi. hukum dapat dibeli. Politik adalah panglima
Cara dan tujuan sama-sama penting, harus menjunjung tinggi moral dan etika Menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan
Satu kata dan satu tindakan, konsisten Tidak konsisten, kata dan perbuatan bertolak belakang
Menepati janji, membangun kepercayaan Pintar mengobral janji, mengingkari kepercayaan yg diberikan
Bersimpati pada rakyat dan mau mendengarkan serta mencarikan solusi atas permasalahan mereka Mendekati rakyat hanya kalau ada maunya, biasanya dekat-dekat pemilu
Bertindak menurut apa yang benar, walaupun kadang tidak populer Mencari popularitas dan bertindak demi pencitraan

Jadi Sudah jelaskan ? Perbedaan antar keduanya, So… Kedepannya kita pilih Presiden yang Negarawan jangan yg Politisi, agar Indonesia Tidak terpuruk seperti saat ini :)

Wassalam

Bayu Wiryawan

HMI Cabang Tanjungpinang-Bintan

pengantar memasuki mission hmi

pengantar memasuki mission hmi..
semua yang ada pasti diciptakan dan semua yang diciptakan mesti memiliki tujuan, karena ada tanpa tujuan sama saja dengan akal tak berpengetahuan, hampa…
apa, kenapa, bagaimana?
himpunan mahasiswa islam (hmi), dari namanya saja, orang akan bisa melihat bahwa hmi ini berstatus sebagai organisasi mahasiswa (vide pasal 7 ad hmi). sebelum kita lebih jauh mengupas tentang organisasi ini, ada baiknya kita terlebih dahulu mengetahui apa itu mahasiswa? dengan melihat studi di perguruan tinggi paska melewati masa sekolahnya di smu/sederajat, mahasiswa bisa disebut sebagai orang muda yang secara kejiwaan mengalami fase yang senantiasa berbuat guna menemukan jati dirinya. orang muda selalu dicirikan dengan semangat yang mengebu-gebu, selalu berpikir ke depan dan normatif, apa yang seharusnya, apa yang sepatutnya, atau sering kita sebut dengan idealisme, selalu memandang sesuatu secara ideal. pendapat ini bisa jadi benar, jika membandingkannya dengan orang tua, yang memang harus berpikir senyatanya, bagaimana menghadapi tantangan hidup, persoalan pekerjaan, makan, kesejahteraan dst. lebih suka memandang kebelakang, mengingat-ingat romantisme dulu, hingga ungkapan.”muda idealis, tua pragmatis” barangkali benar.
mahasiswa, juga sering diberi predikat atau memainkan peran sebagai inti kekuatan perubahan, garda terdepan pembaharuan, benteng moral bangsa, sosial kontrol antara lain karena dua alasan pertama, karena mahasiswa memiliki ilmu pengetahuan yang lebih dibandingkan kawan-kawannya yang tidak mengecap pendidikan tinggi. dimana ciri-cirinya mahasiswa relatif memiliki otonomi yang tinggi, tidak bergantung pada pihak manapun, kritis, kelompok yang bebas dari kelompok kepentingan apapun kecuali kepentingan kebenaran.. berikutnya karena berpendidikan tinggi maka secara politis mahasiswa telah mengalami sosialisasi politik yang lebih tinggi, di kampusnya mereka mengalami akulturasi mengingat heterogenitas penghuni kampus, sehingga mahasiswa dalam mengemban fungsi generasinya sebagai kaum muda terdidik harus sadar akan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan masa yang akan datang. kondisi tersebut memungkinkan transformasi dalam tataran nilai pada mahasiswa. kedua, adalah legitimasi atas fungsi dan peran yang dimainkan sepanjang panggung sejarah dengan tema besar “dinamika gerakan mahasiswa”.
percaya tidak percaya, dalam perjalanan sejarah bangsa indonesia, peran kaum muda khususnya mahasiswa tidak dapat dipandang kecil, inilah mungkin yang menjadi “semacam beban” bagi gererasi mahasiswa dalam continuum waktu berikutnya, hingga berbagai macam predikat itu menjadi sebuah kewajiban. katakanlah kebangkitan nasional 1908 dan sumpah pemuda 1928, dimana mahasiswa pada saat itu dipandang sebagai pelopor dan pemersatu bangsa. kemudian di masa revolusi kemerdekaan, mahasiswa dipandang sebagai pendobrak penjajahan dan pembela kemerdekaan republik. sebagai satu catatan saja, hmi pada masa itu menjadi salah satu—kalau tidak etis mengatakan, satu-satunya—inisiator pembentukan perhimpunan persyarikatan mahasiswa indonesia (ppmi) dan turut berjuang senjata pula dalam corps/compy mahasiswa, pada masa paska kemerdekaan identitas dan peran politik mahasiswa semakin diperkuat oleh keberhasilan protes-protes mahasiswa tahun 1966 yang tergabung dalam kami (kesatuan aksi mahasiswa indonesia) yang berhasil dengan sukses menumbangkan orde lama, dimana sekali lagi hmi menjadi salah satu inisiatornya.
namun dalam perjalanannya, dinamika gerakan mahasiswa menghadapi persoalan internal paska ’66 dikarenakan, mahasiswa adalah termasuk elemen pembentuk orde baru, selain abri (sekarang tni) dan teknokrat. tampak terjadi kebuntuan, apa alternatif bangunan gerakan yang ditawarkan, tatkala gerakan ’66 telah menjadi mitos? peran apa yang ingin dimainkan dalam system politik orba? bagaimana seharusnya tugas dan masa depan eksponen ’66? pertanyaan-pertanyaan itu memang akan terlihat sangat susah sebab mahasiswa adalah termasuk dalam salah satu grand design elit yang menang.
baru pada awal ‘70-an mahasiswa menemukan perannya yang sesuai dengan predikat intelektual, yakni sebagai kekuatan moral (moral force). artinya, mahasiswa bukan sebagai kelompok elit politik yang berusaha mendapatkan kekuasaan, melainkan sebagai kekuatan moral yang secara aktif ikut berperan dalam mencapai cita-cita negara. tugas utama dalam konsep ini adalah melakukan kritik terhadap keadaan sosial politik yang tidak benar. dengan demikian mahasiswa tidak cuma keluar dari aliansi segitiga, tetapi juga mau tidak mau harus berhadapan dengan rezim orde baru yang terdiri atas militer dan teknokrat (cikal bakal, golkar). dalam menghadapi kritik tersebut, rezim bisa bertindak akomodatif bisa pula bersikap keras. peristiwa malari 1974 (malapetaka 15 januari 1974) secara nyata menunjukkan kalau rezim tidak segan-segan bertindak keras terhadap mahasiswa dimana pemimpin-pemimpin mahasiswa dijebloskan dalam penjara dan organisasinya dibubarkan.
tahun berikutnya, kita bisa mencatat naik turunnya dinamika itu katakanlah tahun 1978 yang menunjukkan bahwa kekuatan negara orba semakin dominan dan sebaliknya kekuatan masyarakat melemah, protes menolak soeharto tidak berarti apa-apa, malah sebaliknya, negara semakin menjadi-jadi dengan mengeluarkan paket kebijakan nkk/bkk, daoed joesoef, wawasan almamater, nugroho notosusanto yang kesemuany berupaya mematikan aktifitas politik mahasiswa dan menjadikan mahasiswa hanya sebagai manusia penganalisa (man of analisys) dan pekerja otak (knowledge worker) yang dipersiapkan untuk memasuki teknostruktur.
sabar, sabar, sabar dan tunggu, itu jawaban yang kami terima; kita harus ke jalan, robohkan setan yang berdiri mengangkang… (bongkar, iwan fals)
ketatnya kebijakan itu otomatis, menjadikan kampus di tahun 80-an adem ayem, mahasiswa banyak melarikan aktifitas politiknya pada diskusi dan kontemplasi di luar kampus. yang kemudian mempolarisasikan gerakan mahasiswa pada dua bentuk yakni, kelompok studi dan lsm mahasiswa. dua bentuk ini tidak pernah ketemu dalam prakteknya, satu menganggap yang lain hanya beronani wacana dan satu menganggap yang lain pragmatis, tanpa menyadari bahwa aksi akan semakin kuat jika dibarengi refleksi, dan diskusi akan sangat praksis bila disertai aksi, sebagaimana lenin bilang, “mustahil terjadi revolusi tanpa teori revolusi”.
setelah mendapat kritik keras akan bentuk gerakan yang sama-sama ekslusif itu, mahasiswa, berkeyakinan untuk kembali ke kampus, karena memang disanalah basis gerakan itu ada. ’87 sampai akhir ’89, protes kembali menyeruak ke permukaan dengan isu yang beragam sesuai dengan perubahan politik yang ada saaat itu. dapat dicatat antara lain isu-isu itu mengangkat;: pertama, isu tentang masalah intern kampus seperti penolakan dekan/rektor, kenaikan spp, mutu pendidikan dll (1987); kedua, isu tentang depolitisasi kampus seperti pelaksanaan nkk/bkk, kebebasan mimbar, kebebasan akademik, otonomi kampus (1988); ketiga, isu lokal yang berupa ekses pembangunan di daerah atau penyalahgunaan wewenang oleh pejabat di daerah seperti kasus tanah badega, cimacan, kacapiring, kedung ombo dan penggalian pasir di mojokerto (1989); keempat, isu nasional yang bersifat membela atau memperjuangkan kepentingan rakyat banyak seperti kenaikan tarif listrik dan peredaran kupon ksob/tssb, kelima, isu yang bersifat merespon terhadap tindak kekerasan aparat pemerintah, seperti anti kekerasan.
1990 menjadi pertanda berakhirnya masa nkk/bkk, dengan keluarnya kebijakan senat mahasiswa perguruan tinggi (smpt), namun kampus terpolarisasi antara yang menerima dan menolak, yang menolak berpandangan smpt, tidak populis, smpt dijadikan ajang permainan elit mahasiswa, smpt dianggap tidak lebih sebagai upaya kooptasi birokrat kampus dan perpanjangan nkk/bkk yang berubah bentuk. sedang yang menerima berpandangan adanya celah yang dapat digunakan mahasiswa yakni petunjuk teknis pelaksanaan keputusan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi. dengan modal ini, aturan main smpt ditentukan oleh institusi perguruan tinggi masing-masing. tetapi yang jelas keberadaan smpt, tidak lebih hanya memberikan prestise, “kesejahtera-mudahan” pengurus, dan “kekuasaan” eksistensi kelembagaan.
sampai akhirnya, situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu di 1997 dapat menyatukan kembali gerakan mahasiswa, dengan bungkus reformasi, 32 tahun rezim soeharto dapat dilengserkan. ‘98, dinamika gerakan mahasiswa mencapai titik gemilang berikutnya. seperti sebuah rangkaian episode yang teratur, mahasiswa paska ’98 dipaksa keras untuk menjaga berjalannya proses reformasi. sebagaimana air laut, dinamika gerakan mahasiswa mengalami pasang surut sampai hari ini…
hmi, hakekat dan maknanya…
berikutnya yang terlihat dari kata hmi adalah “i”nya, yakni islam. dalam anggaran dasar pasal 3 disebutkan bahwa “hmi berasaskan islam”, bahkan jauh sebelum itu ide dasar kelahiran hmi yang melihat kondisi umat islam indonesia yang terpolarisasi dalam beberapa kelompok maka menurut pemrakarsa pendiri, ayahanda, lafran pane, kita harus melakukan “pembaharuan ke-islaman”. maka untuk melakukan gerakan pembaharuan mutlak dibutuhkan alat perjuangan yang berupa organisasi, karena gerakan tidak bisa dilakukan sambil lalu melainkan harus dengan suatu usaha yang teratur, terencana dan sistematis.
selain itu salah satu latar belakang yang sangat dominan dalam lahirnyapun adalah persoalan ke-islaman, antara lain: (1). menampung aspirasi mahasiswa islam akan kebutuhan, pemahaman, penghayatan keagamaan; (2). tenggelamnya ruh dan semangat islam dalam mahzabisme, sufisme dan tertutupnya pintu ijtihad. namun disamping itu bangkitnya islam yang dimulai dari dunia arab berupa gerakan reformasi dan modernisasi dalam tata kehidupan keagamaan umat islam dan resonansinya mengilhami dan mendorong umat islam indonesia untuk bangkit, kebangkitan terlihat dari munculnya serikat dagang islam, muhammadiyah, al-jamiatul wasliyah, persatuan umat islam, persatuan islam dan masyumi; (3). terjadinya krisis keseimbangan dikalangan mahasiswa akibat perguruan tinggi yang tidak mengintegrasikan antara disiplin ilmu dan agama.
sesungguhnya allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan islam sebagai agama yang haq, dan sempurna untuk mengatur umat manusia agar berkehidupan sesuai dengan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi dengan kewajiban mengabdikan diri semata-mata kehadirat-nya. kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia tersebut adalah kehidupan yang seimbang, terpadu antara jasmani dan ruhani, individu dan masyarakat, iman, ilmu dan amal dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan ukhrowi (lihat, nilai-nilai dasar perjuangan hmi).
sehingga dengan begitu ke-islaman adalah sebuah komitmen (ikatan jiwa) bagi hmi secara moral dan kelembagaan. maka islam bagi hmi adalah dasar kelahiran, sumber nilai, motivasi, dan inspirasi. karena islam adalah ajaran yang fitrah, maka pada dasarnya tujuan islam adalah juga merupakan tujuan dan usaha hmi
.
aku tak mau terlibat persekutuan manipulasi; aku tak mau terlibat pengingkaran keadilan; aku mau jujur-jujur saja, bicara apa adanya; aku tak mau mengingkari hati nurani. (hio, iwan fals)
sebagaimana tadi dikatakan diatas, dimana mahasiswa yang berperan sebagai moral force yang senantiasa menjalankan fungsi social control. maka mahasiswa harus senantiasa merupakan kelompok yang bebas dari kelompok apapun, kecuali kepentingan kebenaran dan obyektifitas demi kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan kedepan. untuk itu sebagai hmi yang berstatus sebagai organisasi mahasiswa, sifat mahasiswa harus dijiwai dan menjiwai hmi, dengan kata lain hmi harus menjiwai dan dijiwai sikap independen.
sifat independensi hmi adalah sifat organisasi secara etis merupakan karakter dan kepribadian kader hmi. implementasinya harus terwujud dalam bentuk pola pikir pola sikap, dan pola laku setiap kader hmi baik dalam dinamikanya sebagai kader hmi—yang kemudian disebut sebagai independensi etis hmi—maupun dalam melaksanakan hakekat dan mission hmi dalam kiprah hidup berorganisasi, berbangsa dan bernegara, kemudian disebut sebagai independensi organisatoris hmi.
independensi etis adalah sifat independen secara etis yang pada hakekatnya merupakan sifat yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan. fitrah tersebut membuat keinginan manusia suci dan secara kodrati cenderung pada kebenaran (hanief). watak dan kepribadian kader sesuai dengan fitrahnya akan membuat kader hmi selalu setia pada hati nuraninya yang senantiasa memancarkan keinginan pada kebaikan, kesuciaan dan kebenaran pada allah subhanahu wa ta’ala. dengan demikian melaksanakan independensi etis bagi setiap kader hmi berarti pengaktualisasian dinamika berpikir, bersikap, dan berprilaku baik hablumminallah maupun dalam hablumminannas hanya tunduk dan patuh pada kebenaran.
sedang independensi organisatoris adalah watak independen hmi yang teraktualisasi secara organisasi di dalam kiprah dinamika hmi baik dalam kehidupan interen organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. independensi organisatoris diartikan bahwa dalam keutuhan kehidupan nasional, hmi secara organisatoris senantiasa melakukan partisipasi aktif, korektif, dan konstitusional agar perjuangan bangsa dan segala usaha pembangunan demi mencapai cita-cita (masyarakat adil dan makmur tanpa tindasan, tanpa hisapan) semakin hari semakin terwujud dengan tetap menjunjung tinggi, tunduk dan komit pada prinsip-prinsip kebenaran dan obyektifitas. dalam melaksanakan dinamika organisasi hmi secara organisatoris tidak pernah terikat jiwa pada kepentingan pihak manapun atau kelompok atau golongan manapun kecuali tunduk dan terikat pada kepentingan kebenaran, obyektifitas, kejujuran, dan keadilan.
mencoba membaca tujuan itu
ibu pertiwi hilang tawanya; tak percaya masih ada cinta… (untukmu negeri, iwan fals)
dalam perjalanannya, rumusan tujuan hmi mengalami beberapa kali perubahan, yang dapat di bagi sebagai berikut:
hasil rapat 5 februari 1947 oleh para pendiri, yaitu: (1). mempertahankan negara republik indonesia dan mempertinggi derajat rakyat indonesia; dan (2). menegakkan dan mengembangkan agama islam. lahir pada masa itu jelas menunjukkan hmi adalah anak kandung revolusi sekaligus anak kandung umat islam indonesia yang resah atas gelagat sejarah. dengan pertimbangan bahwa islam tidak akan berkembang, bila indonesia berlum lagi merdeka. seperti diketahui rentang waktu 1945 s/d 1949, belanda masih melakukan agresi militer, hingga mempertahankan kemerdekaan republik menjadi suatu prioritas.
hasil ketetapan kongres i hmi di yogyakarta, 30 november 1947, yang tertuang dalam pasal 4 ad, membalik rumusan menjadi: (1). menegakkan dan mengembangkan agama islam; dan (2). mempertinggi derajat rakyat dan negara republik indonesia. walau baru 9 bulan, ternyata hmi lebih memilih menjadi anak umat daripada anak bangsa.
hasil ketetapan kongres iv hmi di bandung, yang disahkan 4 oktober 1955, yang tertuang dalam pasal 4 ad, dengan pertimbangan akan kurang tepat jika memposisikan hmi sebagai organisasi massa apalagi kekuatan politik (praktis), sehingga disepakati memfungsikan hmi sebagai organisasi kader. dengan demikian rumusan tujuan menjadi “ikut mengusahakan terbentuknya manusia akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan islam”.
namun dalam perjalanan hmi selanjutnya terasa ada yang kurang dari rumusan tujuan tersebut yakni fungsi lebih lanjut dari “manusia akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan islam” itu serta di bumi apa insan cita itu hidup dan bergerak. karena itu pada kongres x di palembang, dalam ketetapannya yang disahkan 10 oktober 1971 melengkapi rumusan tujuan tersebut sambil memperbaiki redaksinya sehingga berbunyi “terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi allah subhanahu wa ta’ala”. dan terus dikukuhkan dan disahkan di kongres-kongres berikutnya, insyaallah. dalam rumusan tujuan tersebut, maka hmi pada hakekatnya hmi bukanlah organisasi massa dalam artian kuantitatif, sebaliknya hmi secara kualitatif merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan idea, bakat dan potensi yang mendidik, memimpin dan membimbing anggota-anggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif. dari rumusan itu pula dapat dibagi menjadi dua, yakni insan cita dan masyarakat cita.
insan cita hmi adalah merupakan dunia cita, ideal yang ingin diwujudkan oleh hmi dalam pribadi seseorang manusia beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. dalam tafsir tujuan hmi, insan cita memiliki beberapa 17 kualitas pribadi, yang pada pokoknya merupakan gambaran “man of future”, insan pelopor yaitu insane yang berpikiran luas dan berpandangan jauh, bersifat terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara operatijf bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan. ideal tipe dari hasil perkaderan hmi adalah “man of inovator” (duta-duta pembaharu). penyuara “idea of progress”. insane yang berkepribadian imbang yang berkepribadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur, tidak takabur dan bertaqwa kepada allah swt. mereka itu manusia-manusia yang beriman, berilmu, dan mampu beramal saleh dalam kualitas yang maksimal (insan kamil).
masyarakat adil dan makmur yang diridhoi allah swt. adalah gambaran sederhana hmi tentang tatanan masyarakat yang dimimpikan untuk diwujudkannya, dicita-citakannya, masyarakat yang dalam bahasa agama disebut sebagai baldatun toyibbatun wa robbun ghafur yang merupakan fungsi dari insan cita yang akan dikader oleh hmi. masyarakat cita yang ingin diwujudkan hmi itu juga senada dengan apa yang ingin menjadi cita-cita kemerdekaan oleh bung-bung besar pendiri republik ini, yakni masyarakat yang bebas dari bermacam bentuk belenggu penindasan, masyarakat yang berdaulat, masyarakat yang berdaya, mampu dan mandiri serta dapat menentukan hidupnya sendiri, masyarakat yang menjadi cita-cita kemerdekaan sebagaimana tujuan dari kemerdekaan bukanlah kemerdekaan itu sendiri, dimana bila merujuk pada bahasa preambule konstitusi kita, pembukaan uud 1945 yaitu perjuangan pergerakan kemerdekaan indonesia masih sampai sebatas mengantarkan rakyat pada “pintu gerbang” satu tatanan masyarakat “adil dan makmur” untuk itu syarat mutlaknya adalah penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, indonesia bisa berkehidupan kebangsaan yang bebas dst..dst… dengan begitu jelas bahwa masyarakat cita ini berada di dalam republik indonesia, dan tujuan hmi hanya dapat direalisasikan oleh mereka yang disebut “kader” dan itu tidaklah berhenti pada masa keanggotaan seorang mahasiswa.
fungsi dan peran.
dalam anggaran dasar, pasal 8 dikatakan bahwa “hmi berfungsi sebagai organisasi kader”. dalam pedoman perkaderan dikatakan bahwa, kader adalah sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar. hal ini dijelaskan dalam ciri-ciri komulatif seorang kader hmi, yaitu: pertama, seorang kader bergerak dan terbentuk dalam organisasi, mengenal aturan-aturan main organisasi dan tidak bermain sendiri sesuai dengan selera pribadi. dari segi nilai, aturan itu adalah ndp, sedang dari segi operationalisasi organisasi adalah ad/art hmi, pedoman perkaderan, dan pedoman serta ketentuan organisasi lainnya. kedua, seorang kader memiliki komitmen yang terus menerus (permanen), tidak mengenal semangat musiman, tapi utuh dan istiqomah (konsisten) dalam memperjuangkan dan melaksanakan kebenaran. ketiga, seorang kader memiliki bobot yang dan kualitas sebagai tulang punggung atau kerangka yang mampu menyangga kesatuan komunitas manusia yang lebih besar. jadi fokus penekanan kaderisasi adalah pada aspek kualitas. keempat, seorang kader memiliki visi dan perhatian yang serius dalam merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan social engineering.
sedang dalam pasal 9 anggaran dasar disebutkan “hmi berperan sebagai organisasi perjuangan”. sebagaimana di atas, baik secara organisatoris maupun etis adalah kewajiban bagi kader hmi untuk komit terhadap islam dan hmi adalah alatnya, alat perjuangan untuk mentransformasikan nilai-nilai ke-islaman yang membebaskan (liberation force), dan memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum miskin (dhu’afa) dan kaum tertindas (mustradzafin). perubahan bagi hmi merupakan keharusan, demi tercapainya idealisme ke-islaman, maka hmi bertekad menjadikan islam sebagaiu doktrin yang mengarahkan pada peradaban secara integralistik, transendental, humanis, dan inklusif. dengan demikian kader-kader hmi harus berani menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilanserta prinsip-prinsip demokrasi tanpa melihat perbedaan keyakinan dan mendorong terciptanya penghargaan islam sebagai sumber kebenaran yang paling hakiki.
jelaslah kiranya bahwa dalam rumusan tujuan hmi yang tadi kita katakan terbagi dua yakni “insan cita” dan “masyarakat cita” secara eksplisit berbicara tentang fungsi perkaderan dan peran perjuangan. dan tujuan hmi tidak akan pernah tercapai bila dalam prosesnya tidak sinambung antara keduanya. fungsi dan peran adalah dua sisi mata koin (two side of coin) tujuan. bahwa mustahil ada perubahan ke arah yang benar, kalau kesalahan berpikir masih menjebak benak kita, kata kang jalal, maka akan muspro berbicara sosial jika masalah personal masih saja menggerogoti kita. dalam bahasa kita sehari hari, internalisasi dahulu baru ekternalisasi atau obyektifikasi, pengabdian mengharap ridho-nya.
nah, akhirnya…
tujuan, jelas diperlukan oleh suatu organisasi sehingga setiap usahanya yang dilakukannya dapat dilaksanakan secara terencana, teratur, terarah dan sistematis. bahwa tujuan suatu organisasi dipengaruhi oleh motivasi dasar pembentukannya, status, sifat, fungsi dan perannya secara integral dalam totalitas dimana ia berada.
islam bagi hmi adalah sebagai sumber nilai, motivasi, inspirasi. keyakinan akan kebenaran islam menjadikan hmi secara sadar memilih islam sebagai asasnya (vide pasal 3 ad). oleh karenanya islam bagi hmi merupakan pijakannya dalam menetapkan tujuan. status hmi sebagai organisasi mahasiswa (vide pasal 7 ad) memberi petunjuk dimana hmi berspesialisasi. spesialisasi inilah yang disebut dengan fungsi hmi yakni sebagai organisasi kader (vide pasal 8 ad), karena mahasiswa adalah kelompok elit dalam totalitas generasi muda yang harus mempersiapkan diri dalam menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa dan generasi yang akan datang. maka fungsi kaderisasi mahasiswa merupakan fungsi yang paling pokok. sebagai kelompok elit, mahasiswa memiliki tanggung jawab yang besar, karena itu dengan sifat dan wataknya yang kritis, mahasiswa kemudian berperan sebagai moral force yang senantiasa melaksanakan fungsi social control. untuk itu, mahasiswa harus bersikap independen dan hanya berpihak pada kebenaran dan keadilan serta obyektifitas. hmi yang melakukan fungsi kaderisasi mahasiswa pun harus menjiwai dan dijiwai sifat independen (vide pasal 6 ad). fungsi kaderisasi dalam membentuk apa yang disebut hmi sebagai insan cita (insan kamil ala hmi) tidak lain adalah upaya untuk mewujudkan kehidupan yang sesuai dengan fitrahnya, yakni kehidupan yang seimbang dan terpadu antara jasmani dan ruhani, akal dan kalbu, individu dan masyarakat, iman dan ilmu, demi mencapai kebahagiaan di dunia dan ukhrowi. demi mencapai kehidupan yang sesuai dengan fitrahnya itu, maka dibutuhkan sebuah kerja kemanusiaan (amal shaleh), yang tertuang dalam peran hmi sebagai organisasi perjuangan (vide pasal 9 ad), yakni peran yang diemban dalam melakukan internalisasi, eksternalisasi maupun obyektifikasi nilai-nilai ke-islaman. dan kerja kemanusiaan ini akan terlaksana dengan benar dan sempurna apabila dibekali dan didasari oleh iman dan ilmu pengetahuan. karena inilah hakekat tujuan hmi tidak lain adalah pembentukan manusia yang beriman dan berilmu serta mampu menunaikan tugas kerja kemanusiaan (amal shaleh). pengabdian dalam bentuk kerja kemanusiaan inilah hakekat tujuan hidup manusia, sebab dengan melalui kerja kemanusiaan, manusia mendapatkan kebahagiaan.
billahittaufiq wal hidayah. bahagia hmi…

semua yang ada pasti diciptakan dan semua yang diciptakan mesti memiliki tujuan, karena ada tanpa tujuan sama saja dengan akal tak berpengetahuan, hampa…

apa, kenapa, bagaimana?

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dari namanya saja, orang akan bisa melihat bahwa hmi ini berstatus sebagai organisasi mahasiswa (vide pasal 7 ad hmi). Sebelum kita lebih jauh mengupas tentang organisasi ini, ada baiknya kita terlebih dahulu mengetahui apa itu mahasiswa? dengan melihat studi di perguruan tinggi paska melewati masa sekolahnya di smu/sederajat, mahasiswa bisa disebut sebagai orang muda yang secara kejiwaan mengalami fase yang senantiasa berbuat guna menemukan jati dirinya. Orang muda selalu dicirikan dengan semangat yang mengebu-gebu, selalu berpikir ke depan dan normatif, apa yang seharusnya, apa yang sepatutnya, atau sering kita sebut dengan idealisme, selalu memandang sesuatu secara ideal. pendapat ini bisa jadi benar, jika membandingkannya dengan orang tua, yang memang harus berpikir senyatanya, bagaimana menghadapi tantangan hidup, persoalan pekerjaan, makan, kesejahteraan dst. lebih suka memandang kebelakang, mengingat-ingat romantisme dulu, hingga ungkapan. “muda idealis, tua pragmatis” barangkali benar.

Mahasiswa,  juga sering diberi predikat atau memainkan peran sebagai inti kekuatan perubahan, garda terdepan pembaharuan, benteng moral bangsa, sosial kontrol antara lain karena dua alasan pertama, karena mahasiswa memiliki ilmu pengetahuan yang lebih dibandingkan kawan-kawannya yang tidak mengecap pendidikan tinggi. Dimana ciri-cirinya mahasiswa relatif memiliki otonomi yang tinggi, tidak bergantung pada pihak manapun, kritis, kelompok yang bebas dari kelompok kepentingan apapun kecuali kepentingan kebenaran.. berikutnya karena berpendidikan tinggi maka secara politis mahasiswa telah mengalami sosialisasi politik yang lebih tinggi, di kampusnya mereka mengalami akulturasi mengingat heterogenitas penghuni kampus, sehingga mahasiswa dalam mengemban fungsi generasinya sebagai kaum muda terdidik harus sadar akan kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan masa yang akan datang. kondisi tersebut memungkinkan transformasi dalam tataran nilai pada mahasiswa. Kedua, adalah legitimasi atas fungsi dan peran yang dimainkan sepanjang panggung sejarah dengan tema besar “dinamika gerakan mahasiswa”.

Percaya tidak percaya, dalam perjalanan sejarah bangsa indonesia, peran kaum muda khususnya mahasiswa tidak dapat dipandang kecil, inilah mungkin yang menjadi “semacam beban” bagi gererasi mahasiswa dalam continuum waktu berikutnya, hingga berbagai macam predikat itu menjadi sebuah kewajiban. katakanlah kebangkitan nasional 1908 dan sumpah pemuda 1928, dimana mahasiswa pada saat itu dipandang sebagai pelopor dan pemersatu bangsa. kemudian di masa revolusi kemerdekaan, mahasiswa dipandang sebagai pendobrak penjajahan dan pembela kemerdekaan republik. sebagai satu catatan saja, hmi pada masa itu menjadi salah satu—kalau tidak etis mengatakan, satu-satunya—inisiator pembentukan perhimpunan persyarikatan mahasiswa indonesia (ppmi) dan turut berjuang senjata pula dalam corps/compy mahasiswa, pada masa paska kemerdekaan identitas dan peran politik mahasiswa semakin diperkuat oleh keberhasilan protes-protes mahasiswa tahun 1966 yang tergabung dalam kami (kesatuan aksi mahasiswa indonesia) yang berhasil dengan sukses menumbangkan orde lama, dimana sekali lagi hmi menjadi salah satu inisiatornya.

namun dalam perjalanannya, dinamika gerakan mahasiswa menghadapi persoalan internal paska ’66 dikarenakan, mahasiswa adalah termasuk elemen pembentuk orde baru, selain abri (sekarang tni) dan teknokrat. tampak terjadi kebuntuan, apa alternatif bangunan gerakan yang ditawarkan, tatkala gerakan ’66 telah menjadi mitos? peran apa yang ingin dimainkan dalam system politik orba? bagaimana seharusnya tugas dan masa depan eksponen ’66? pertanyaan-pertanyaan itu memang akan terlihat sangat susah sebab mahasiswa adalah termasuk dalam salah satu grand design elit yang menang.

baru pada awal ‘70-an mahasiswa menemukan perannya yang sesuai dengan predikat intelektual, yakni sebagai kekuatan moral (moral force). artinya, mahasiswa bukan sebagai kelompok elit politik yang berusaha mendapatkan kekuasaan, melainkan sebagai kekuatan moral yang secara aktif ikut berperan dalam mencapai cita-cita negara. tugas utama dalam konsep ini adalah melakukan kritik terhadap keadaan sosial politik yang tidak benar. dengan demikian mahasiswa tidak cuma keluar dari aliansi segitiga, tetapi juga mau tidak mau harus berhadapan dengan rezim orde baru yang terdiri atas militer dan teknokrat (cikal bakal, golkar). dalam menghadapi kritik tersebut, rezim bisa bertindak akomodatif bisa pula bersikap keras. peristiwa malari 1974 (malapetaka 15 januari 1974) secara nyata menunjukkan kalau rezim tidak segan-segan bertindak keras terhadap mahasiswa dimana pemimpin-pemimpin mahasiswa dijebloskan dalam penjara dan organisasinya dibubarkan.

tahun berikutnya, kita bisa mencatat naik turunnya dinamika itu katakanlah tahun 1978 yang menunjukkan bahwa kekuatan negara orba semakin dominan dan sebaliknya kekuatan masyarakat melemah, protes menolak soeharto tidak berarti apa-apa, malah sebaliknya, negara semakin menjadi-jadi dengan mengeluarkan paket kebijakan nkk/bkk, daoed joesoef, wawasan almamater, nugroho notosusanto yang kesemuany berupaya mematikan aktifitas politik mahasiswa dan menjadikan mahasiswa hanya sebagai manusia penganalisa (man of analisys) dan pekerja otak (knowledge worker) yang dipersiapkan untuk memasuki teknostruktur.

sabar, sabar, sabar dan tunggu, itu jawaban yang kami terima; kita harus ke jalan, robohkan setan yang berdiri mengangkang… (bongkar, iwan fals)

ketatnya kebijakan itu otomatis, menjadikan kampus di tahun 80-an adem ayem, mahasiswa banyak melarikan aktifitas politiknya pada diskusi dan kontemplasi di luar kampus. yang kemudian mempolarisasikan gerakan mahasiswa pada dua bentuk yakni, kelompok studi dan lsm mahasiswa. dua bentuk ini tidak pernah ketemu dalam prakteknya, satu menganggap yang lain hanya beronani wacana dan satu menganggap yang lain pragmatis, tanpa menyadari bahwa aksi akan semakin kuat jika dibarengi refleksi, dan diskusi akan sangat praksis bila disertai aksi, sebagaimana lenin bilang, “mustahil terjadi revolusi tanpa teori revolusi”.

setelah mendapat kritik keras akan bentuk gerakan yang sama-sama ekslusif itu, mahasiswa, berkeyakinan untuk kembali ke kampus, karena memang disanalah basis gerakan itu ada. ’87 sampai akhir ’89, protes kembali menyeruak ke permukaan dengan isu yang beragam sesuai dengan perubahan politik yang ada saaat itu. dapat dicatat antara lain isu-isu itu mengangkat;: pertama, isu tentang masalah intern kampus seperti penolakan dekan/rektor, kenaikan spp, mutu pendidikan dll (1987); kedua, isu tentang depolitisasi kampus seperti pelaksanaan nkk/bkk, kebebasan mimbar, kebebasan akademik, otonomi kampus (1988); ketiga, isu lokal yang berupa ekses pembangunan di daerah atau penyalahgunaan wewenang oleh pejabat di daerah seperti kasus tanah badega, cimacan, kacapiring, kedung ombo dan penggalian pasir di mojokerto (1989); keempat, isu nasional yang bersifat membela atau memperjuangkan kepentingan rakyat banyak seperti kenaikan tarif listrik dan peredaran kupon ksob/tssb, kelima, isu yang bersifat merespon terhadap tindak kekerasan aparat pemerintah, seperti anti kekerasan.

1990 menjadi pertanda berakhirnya masa nkk/bkk, dengan keluarnya kebijakan senat mahasiswa perguruan tinggi (smpt), namun kampus terpolarisasi antara yang menerima dan menolak, yang menolak berpandangan smpt, tidak populis, smpt dijadikan ajang permainan elit mahasiswa, smpt dianggap tidak lebih sebagai upaya kooptasi birokrat kampus dan perpanjangan nkk/bkk yang berubah bentuk. sedang yang menerima berpandangan adanya celah yang dapat digunakan mahasiswa yakni petunjuk teknis pelaksanaan keputusan ditetapkan oleh masing-masing perguruan tinggi. dengan modal ini, aturan main smpt ditentukan oleh institusi perguruan tinggi masing-masing. tetapi yang jelas keberadaan smpt, tidak lebih hanya memberikan prestise, “kesejahtera-mudahan” pengurus, dan “kekuasaan” eksistensi kelembagaan.

sampai akhirnya, situasi politik dan ekonomi yang tidak menentu di 1997 dapat menyatukan kembali gerakan mahasiswa, dengan bungkus reformasi, 32 tahun rezim soeharto dapat dilengserkan. ‘98, dinamika gerakan mahasiswa mencapai titik gemilang berikutnya. seperti sebuah rangkaian episode yang teratur, mahasiswa paska ’98 dipaksa keras untuk menjaga berjalannya proses reformasi. sebagaimana air laut, dinamika gerakan mahasiswa mengalami pasang surut sampai hari ini…

hmi, hakekat dan maknanya…

berikutnya yang terlihat dari kata hmi adalah “i”nya, yakni islam. dalam anggaran dasar pasal 3 disebutkan bahwa “hmi berasaskan islam”, bahkan jauh sebelum itu ide dasar kelahiran hmi yang melihat kondisi umat islam indonesia yang terpolarisasi dalam beberapa kelompok maka menurut pemrakarsa pendiri, ayahanda, lafran pane, kita harus melakukan “pembaharuan ke-islaman”. maka untuk melakukan gerakan pembaharuan mutlak dibutuhkan alat perjuangan yang berupa organisasi, karena gerakan tidak bisa dilakukan sambil lalu melainkan harus dengan suatu usaha yang teratur, terencana dan sistematis.

selain itu salah satu latar belakang yang sangat dominan dalam lahirnyapun adalah persoalan ke-islaman, antara lain: (1). menampung aspirasi mahasiswa islam akan kebutuhan, pemahaman, penghayatan keagamaan; (2). tenggelamnya ruh dan semangat islam dalam mahzabisme, sufisme dan tertutupnya pintu ijtihad. namun disamping itu bangkitnya islam yang dimulai dari dunia arab berupa gerakan reformasi dan modernisasi dalam tata kehidupan keagamaan umat islam dan resonansinya mengilhami dan mendorong umat islam indonesia untuk bangkit, kebangkitan terlihat dari munculnya serikat dagang islam, muhammadiyah, al-jamiatul wasliyah, persatuan umat islam, persatuan islam dan masyumi; (3). terjadinya krisis keseimbangan dikalangan mahasiswa akibat perguruan tinggi yang tidak mengintegrasikan antara disiplin ilmu dan agama.

sesungguhnya allah subhanahu wa ta’ala, menurunkan islam sebagai agama yang haq, dan sempurna untuk mengatur umat manusia agar berkehidupan sesuai dengan fitrahnya sebagai khalifah di muka bumi dengan kewajiban mengabdikan diri semata-mata kehadirat-nya. kehidupan yang sesuai dengan fitrah manusia tersebut adalah kehidupan yang seimbang, terpadu antara jasmani dan ruhani, individu dan masyarakat, iman, ilmu dan amal dalam mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan ukhrowi (lihat, nilai-nilai dasar perjuangan hmi).

sehingga dengan begitu ke-islaman adalah sebuah komitmen (ikatan jiwa) bagi hmi secara moral dan kelembagaan. maka islam bagi hmi adalah dasar kelahiran, sumber nilai, motivasi, dan inspirasi. karena islam adalah ajaran yang fitrah, maka pada dasarnya tujuan islam adalah juga merupakan tujuan dan usaha hmi.

aku tak mau terlibat persekutuan manipulasi; aku tak mau terlibat pengingkaran keadilan; aku mau jujur-jujur saja, bicara apa adanya; aku tak mau mengingkari hati nurani. (hio, iwan fals)

sebagaimana tadi dikatakan diatas, dimana mahasiswa yang berperan sebagai moral force yang senantiasa menjalankan fungsi social control. maka mahasiswa harus senantiasa merupakan kelompok yang bebas dari kelompok apapun, kecuali kepentingan kebenaran dan obyektifitas demi kebaikan dan kebahagiaan masyarakat hari ini dan kedepan. untuk itu sebagai hmi yang berstatus sebagai organisasi mahasiswa, sifat mahasiswa harus dijiwai dan menjiwai hmi, dengan kata lain hmi harus menjiwai dan dijiwai sikap independen.

sifat independensi hmi adalah sifat organisasi secara etis merupakan karakter dan kepribadian kader hmi. implementasinya harus terwujud dalam bentuk pola pikir pola sikap, dan pola laku setiap kader hmi baik dalam dinamikanya sebagai kader hmi—yang kemudian disebut sebagai independensi etis hmi—maupun dalam melaksanakan hakekat dan mission hmi dalam kiprah hidup berorganisasi, berbangsa dan bernegara, kemudian disebut sebagai independensi organisatoris hmi.

independensi etis adalah sifat independen secara etis yang pada hakekatnya merupakan sifat yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan. fitrah tersebut membuat keinginan manusia suci dan secara kodrati cenderung pada kebenaran (hanief). watak dan kepribadian kader sesuai dengan fitrahnya akan membuat kader hmi selalu setia pada hati nuraninya yang senantiasa memancarkan keinginan pada kebaikan, kesuciaan dan kebenaran pada allah subhanahu wa ta’ala. dengan demikian melaksanakan independensi etis bagi setiap kader hmi berarti pengaktualisasian dinamika berpikir, bersikap, dan berprilaku baik hablumminallah maupun dalam hablumminannas hanya tunduk dan patuh pada kebenaran.

sedang independensi organisatoris adalah watak independen hmi yang teraktualisasi secara organisasi di dalam kiprah dinamika hmi baik dalam kehidupan interen organisasi maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. independensi organisatoris diartikan bahwa dalam keutuhan kehidupan nasional, hmi secara organisatoris senantiasa melakukan partisipasi aktif, korektif, dan konstitusional agar perjuangan bangsa dan segala usaha pembangunan demi mencapai cita-cita (masyarakat adil dan makmur tanpa tindasan, tanpa hisapan) semakin hari semakin terwujud dengan tetap menjunjung tinggi, tunduk dan komit pada prinsip-prinsip kebenaran dan obyektifitas. dalam melaksanakan dinamika organisasi hmi secara organisatoris tidak pernah terikat jiwa pada kepentingan pihak manapun atau kelompok atau golongan manapun kecuali tunduk dan terikat pada kepentingan kebenaran, obyektifitas, kejujuran, dan keadilan.

mencoba membaca tujuan itu

ibu pertiwi hilang tawanya; tak percaya masih ada cinta… (untukmu negeri, iwan fals)

dalam perjalanannya, rumusan tujuan hmi mengalami beberapa kali perubahan, yang dapat di bagi sebagai berikut:

  • hasil rapat 5 februari 1947 oleh para pendiri, yaitu: (1). mempertahankan negara republik indonesia dan mempertinggi derajat rakyat indonesia; dan (2). menegakkan dan mengembangkan agama islam. lahir pada masa itu jelas menunjukkan hmi adalah anak kandung revolusi sekaligus anak kandung umat islam indonesia yang resah atas gelagat sejarah. dengan pertimbangan bahwa islam tidak akan berkembang, bila indonesia berlum lagi merdeka. seperti diketahui rentang waktu 1945 s/d 1949, belanda masih melakukan agresi militer, hingga mempertahankan kemerdekaan republik menjadi suatu prioritas.
  • hasil ketetapan kongres i hmi di yogyakarta, 30 november 1947, yang tertuang dalam pasal 4 ad, membalik rumusan menjadi: (1). menegakkan dan mengembangkan agama islam; dan (2). mempertinggi derajat rakyat dan negara republik indonesia. walau baru 9 bulan, ternyata hmi lebih memilih menjadi anak umat daripada anak bangsa.
  • hasil ketetapan kongres iv hmi di bandung, yang disahkan 4 oktober 1955, yang tertuang dalam pasal 4 ad, dengan pertimbangan akan kurang tepat jika memposisikan hmi sebagai organisasi massa apalagi kekuatan politik (praktis), sehingga disepakati memfungsikan hmi sebagai organisasi kader. dengan demikian rumusan tujuan menjadi “ikut mengusahakan terbentuknya manusia akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan islam”.
  • namun dalam perjalanan hmi selanjutnya terasa ada yang kurang dari rumusan tujuan tersebut yakni fungsi lebih lanjut dari “manusia akademis, pencipta dan pengabdi yang bernafaskan islam” itu serta di bumi apa insan cita itu hidup dan bergerak. karena itu pada kongres x di palembang, dalam ketetapannya yang disahkan 10 oktober 1971 melengkapi rumusan tujuan tersebut sambil memperbaiki redaksinya sehingga berbunyi “terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggungjawab atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridhoi allah subhanahu wa ta’ala”. dan terus dikukuhkan dan disahkan di kongres-kongres berikutnya, insyaallah. dalam rumusan tujuan tersebut, maka hmi pada hakekatnya hmi bukanlah organisasi massa dalam artian kuantitatif, sebaliknya hmi secara kualitatif merupakan lembaga pengabdian dan pengembangan idea, bakat dan potensi yang mendidik, memimpin dan membimbing anggota-anggotanya untuk mencapai tujuan dengan cara-cara perjuangan yang benar dan efektif. dari rumusan itu pula dapat dibagi menjadi dua, yakni insan cita dan masyarakat cita.

insan cita hmi adalah merupakan dunia cita, ideal yang ingin diwujudkan oleh hmi dalam pribadi seseorang manusia beriman dan berilmu pengetahuan serta mampu melaksanakan tugas kerja kemanusiaan. dalam tafsir tujuan hmi, insan cita memiliki beberapa 17 kualitas pribadi, yang pada pokoknya merupakan gambaran “man of future”, insan pelopor yaitu insane yang berpikiran luas dan berpandangan jauh, bersifat terbuka, terampil atau ahli dalam bidangnya, dia sadar apa yang menjadi cita-citanya dan tahu bagaimana mencari ilmu perjuangan untuk secara operatijf bekerja sesuai dengan yang dicita-citakan. ideal tipe dari hasil perkaderan hmi adalah “man of inovator” (duta-duta pembaharu). penyuara “idea of progress”. insane yang berkepribadian imbang yang berkepribadian imbang dan padu, kritis, dinamis, adil dan jujur, tidak takabur dan bertaqwa kepada allah swt. mereka itu manusia-manusia yang beriman, berilmu, dan mampu beramal saleh dalam kualitas yang maksimal (insan kamil).

masyarakat adil dan makmur yang diridhoi allah swt. adalah gambaran sederhana hmi tentang tatanan masyarakat yang dimimpikan untuk diwujudkannya, dicita-citakannya, masyarakat yang dalam bahasa agama disebut sebagai baldatun toyibbatun wa robbun ghafur yang merupakan fungsi dari insan cita yang akan dikader oleh hmi. masyarakat cita yang ingin diwujudkan hmi itu juga senada dengan apa yang ingin menjadi cita-cita kemerdekaan oleh bung-bung besar pendiri republik ini, yakni masyarakat yang bebas dari bermacam bentuk belenggu penindasan, masyarakat yang berdaulat, masyarakat yang berdaya, mampu dan mandiri serta dapat menentukan hidupnya sendiri, masyarakat yang menjadi cita-cita kemerdekaan sebagaimana tujuan dari kemerdekaan bukanlah kemerdekaan itu sendiri, dimana bila merujuk pada bahasa preambule konstitusi kita, pembukaan uud 1945 yaitu perjuangan pergerakan kemerdekaan indonesia masih sampai sebatas mengantarkan rakyat pada “pintu gerbang” satu tatanan masyarakat “adil dan makmur” untuk itu syarat mutlaknya adalah penjajahan diatas dunia harus dihapuskan, indonesia bisa berkehidupan kebangsaan yang bebas dst..dst… dengan begitu jelas bahwa masyarakat cita ini berada di dalam republik indonesia, dan tujuan hmi hanya dapat direalisasikan oleh mereka yang disebut “kader” dan itu tidaklah berhenti pada masa keanggotaan seorang mahasiswa.

fungsi dan peran.

dalam anggaran dasar, pasal 8 dikatakan bahwa “hmi berfungsi sebagai organisasi kader”. dalam pedoman perkaderan dikatakan bahwa, kader adalah sekelompok orang yang terorganisir secara terus menerus dan akan menjadi tulang punggung bagi kelompok yang lebih besar. hal ini dijelaskan dalam ciri-ciri komulatif seorang kader hmi, yaitu: pertama, seorang kader bergerak dan terbentuk dalam organisasi, mengenal aturan-aturan main organisasi dan tidak bermain sendiri sesuai dengan selera pribadi. dari segi nilai, aturan itu adalah ndp, sedang dari segi operationalisasi organisasi adalah ad/art hmi, pedoman perkaderan, dan pedoman serta ketentuan organisasi lainnya. kedua, seorang kader memiliki komitmen yang terus menerus (permanen), tidak mengenal semangat musiman, tapi utuh dan istiqomah (konsisten) dalam memperjuangkan dan melaksanakan kebenaran. ketiga, seorang kader memiliki bobot yang dan kualitas sebagai tulang punggung atau kerangka yang mampu menyangga kesatuan komunitas manusia yang lebih besar. jadi fokus penekanan kaderisasi adalah pada aspek kualitas. keempat, seorang kader memiliki visi dan perhatian yang serius dalam merespon dinamika sosial lingkungannya dan mampu melakukan social engineering.

sedang dalam pasal 9 anggaran dasar disebutkan “hmi berperan sebagai organisasi perjuangan”. sebagaimana di atas, baik secara organisatoris maupun etis adalah kewajiban bagi kader hmi untuk komit terhadap islam dan hmi adalah alatnya, alat perjuangan untuk mentransformasikan nilai-nilai ke-islaman yang membebaskan (liberation force), dan memiliki keberpihakan yang jelas terhadap kaum miskin (dhu’afa) dan kaum tertindas (mustradzafin). perubahan bagi hmi merupakan keharusan, demi tercapainya idealisme ke-islaman, maka hmi bertekad menjadikan islam sebagaiu doktrin yang mengarahkan pada peradaban secara integralistik, transendental, humanis, dan inklusif. dengan demikian kader-kader hmi harus berani menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilanserta prinsip-prinsip demokrasi tanpa melihat perbedaan keyakinan dan mendorong terciptanya penghargaan islam sebagai sumber kebenaran yang paling hakiki.

jelaslah kiranya bahwa dalam rumusan tujuan hmi yang tadi kita katakan terbagi dua yakni “insan cita” dan “masyarakat cita” secara eksplisit berbicara tentang fungsi perkaderan dan peran perjuangan. dan tujuan hmi tidak akan pernah tercapai bila dalam prosesnya tidak sinambung antara keduanya. fungsi dan peran adalah dua sisi mata koin (two side of coin) tujuan. bahwa mustahil ada perubahan ke arah yang benar, kalau kesalahan berpikir masih menjebak benak kita, kata kang jalal, maka akan muspro berbicara sosial jika masalah personal masih saja menggerogoti kita. dalam bahasa kita sehari hari, internalisasi dahulu baru ekternalisasi atau obyektifikasi, pengabdian mengharap ridho-nya.

nah, akhirnya…

tujuan, jelas diperlukan oleh suatu organisasi sehingga setiap usahanya yang dilakukannya dapat dilaksanakan secara terencana, teratur, terarah dan sistematis. bahwa tujuan suatu organisasi dipengaruhi oleh motivasi dasar pembentukannya, status, sifat, fungsi dan perannya secara integral dalam totalitas dimana ia berada.

islam bagi hmi adalah sebagai sumber nilai, motivasi, inspirasi. keyakinan akan kebenaran islam menjadikan hmi secara sadar memilih islam sebagai asasnya (vide pasal 3 ad). oleh karenanya islam bagi hmi merupakan pijakannya dalam menetapkan tujuan. status hmi sebagai organisasi mahasiswa (vide pasal 7 ad) memberi petunjuk dimana hmi berspesialisasi. spesialisasi inilah yang disebut dengan fungsi hmi yakni sebagai organisasi kader (vide pasal 8 ad), karena mahasiswa adalah kelompok elit dalam totalitas generasi muda yang harus mempersiapkan diri dalam menerima tongkat estafet kepemimpinan bangsa dan generasi yang akan datang. maka fungsi kaderisasi mahasiswa merupakan fungsi yang paling pokok. sebagai kelompok elit, mahasiswa memiliki tanggung jawab yang besar, karena itu dengan sifat dan wataknya yang kritis, mahasiswa kemudian berperan sebagai moral force yang senantiasa melaksanakan fungsi social control. untuk itu, mahasiswa harus bersikap independen dan hanya berpihak pada kebenaran dan keadilan serta obyektifitas. hmi yang melakukan fungsi kaderisasi mahasiswa pun harus menjiwai dan dijiwai sifat independen (vide pasal 6 ad). fungsi kaderisasi dalam membentuk apa yang disebut hmi sebagai insan cita (insan kamil ala hmi) tidak lain adalah upaya untuk mewujudkan kehidupan yang sesuai dengan fitrahnya, yakni kehidupan yang seimbang dan terpadu antara jasmani dan ruhani, akal dan kalbu, individu dan masyarakat, iman dan ilmu, demi mencapai kebahagiaan di dunia dan ukhrowi. demi mencapai kehidupan yang sesuai dengan fitrahnya itu, maka dibutuhkan sebuah kerja kemanusiaan (amal shaleh), yang tertuang dalam peran hmi sebagai organisasi perjuangan (vide pasal 9 ad), yakni peran yang diemban dalam melakukan internalisasi, eksternalisasi maupun obyektifikasi nilai-nilai ke-islaman. dan kerja kemanusiaan ini akan terlaksana dengan benar dan sempurna apabila dibekali dan didasari oleh iman dan ilmu pengetahuan. karena inilah hakekat tujuan hmi tidak lain adalah pembentukan manusia yang beriman dan berilmu serta mampu menunaikan tugas kerja kemanusiaan (amal shaleh). pengabdian dalam bentuk kerja kemanusiaan inilah hakekat tujuan hidup manusia, sebab dengan melalui kerja kemanusiaan, manusia mendapatkan kebahagiaan.

billahittaufiq wal hidayah. bahagia hmi…

sumber: http://ariefzein.multiply.com/journal/item/11

Pendelegasian Wewenang dalam Organisasi

“Pendelegasian Wewenang dalam Organisasi”.
Pendelegasian wewenang adalah sesuatu yang sangat vital dalam aktivitas proses berorganisasi. Seseorang pengurus dalam organisasi sangatlah perlu melakukan penugasan kepada second linenya supaya pengurus lain dalam structural ataupun anggota bisa menjalankan operasional organisasi dengan baik hal ini akan banyak manfaat yang diambil sebagai pembelajaran dalam berorganisasi sekaligus merupakan pengkaderan dalam pengambilan keputusan walaupun sebatas mandate internal organisasi setingkat komisariat.

Continue reading “Pendelegasian Wewenang dalam Organisasi”

REVITALISASI HMI SEBAGAI KADER UMAT DAN BANGSA

Oleh Muhammad Julijanto
(Ketua Umum Komisariat Walisongo IAIN Walisongo Semarang di Surakarta 1996-1997, Ketua HMI Cabang Surakarta 1997-1998, Ketua Umum LPLK HMI Cabang Surakarta 1998-1999, KAHMI Surakarta).

5 Februari adalah diperingati sebagai hari kelahiran Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), kini sudah 64 tahun dari tahun 1947 silam. Setiap ulang tahun harus ada refleksi, harus ada evaluasi, sehingga akan diketahui semangat zaman yang selalu membaru seiring dengan dinamika masyarakat.

Continue reading “REVITALISASI HMI SEBAGAI KADER UMAT DAN BANGSA”

Membincangkan Sejarah HMI

Berbincang mengenai sejarah, tidak terlepas dari pertanyaan 5W 1H terhadap suatu kejadian, yaitu apa, dimana, kapan, mengapa, siapa, dan bagaimana. Namun kejadian itu tidak sepenuhnya bisa ditulis atau diceritakan sesuai dengan kenyataan secara utuh. Cerita terhadap suatu kejadian di masa lampau harus dipahami sebagai penafsiran ulang terhadap kejadian, bukannya kejadian itu sendiri. Continue reading “Membincangkan Sejarah HMI”

Memaknai Independensi HMI

Berbicara mengenai pandangan di masa yang akan datang, maka kita akan dihadapkan pada pembahasan visi. Visi merupakan dasar berpikir dari planing, organizing, actuating, dan controlling yang selama ini kita kenal sebagai teori manajemen organisasi dalam metode pencapaian tujuan. Visi dibagun di atas pondasi hipotesis dari sebuah observasi real terhadap spekulasi rasional berdasarkan pengalaman dan pengetahuan.

Jika kita pernah melihat ‘kebesaran senior’ yang pernah berproses di dalam organisasi, maka kita akan menarik kesimpulan sementara (hipotesis) bahwa mereka besar karena menjalani aktivitas yang meliputi pelatihan dan sinergi di dalam organisasi tersebut. Pengetahuan terhadap bentuk dan jenis pelatihan tersebut kemudian menderivasikan sebuah anggapan.

Ada dua anggapan yang muncul menjawab kemampuan HMI dalam melahirkan ‘orang-orang besar’. Pertama, karena HMI pada periode terdahulu melakukan internal procces yang mengacu pada tata cara pembentukan kader secara internal. Kedua, lebih disebabkan oleh improvisasi individual para kader dengan melakukan inner construction secara mandiri.(Sarmuji, Muhammad, Menuju Organisasi Pembelajar, Cara Cerdas HMI Menghadapi Perubahan, Jakarta: 2003, Aura Reformasi Press).

Jika kita mengacu kepada kedua anggapan di atas, maka dalam proses ber-HMI kita hanya akan melakukan aktivitas kaderisasi dalam bingkai pelatihan formal dan selebihnya kader akan dibebaskan untuk melatih dirinya sendiri. HMI yang menyatakan diri sebagai organisasi kader di dalam pasal 8 AD HMI, yang berarti HMI memiliki fungsi perkaderan yang dijalankan oleh setiap kader yang lebih dahulu berada di HMI terhadap setiap kader yang baru menghimpun diri ke dalam HMI tidak hanya berdimensi formal, namun juga memiliki dimensi non formal yang ketika kita tafsirkan ke dalam bentuk implementasi berupa pelatihan (Bastra, Intra, dan Adtra) up grading dan follow up juga pembentukan kader dalam kondisi santai seperti berbincang-bincang, tanya-jawab persuasif dan sosialisasi kultural yang sifatnya menstimulasi pengembangan kualitas diri kader.

Terlepas dari semua hal di atas, saya masih mempertanyakan eksistensi HMI di masa yang akan datang ketika menjamurnnya organisasi serupa di kalangan Mahasiswa. Sebuah konstruksi realitas yang jika dikaitkan dengan asumsi ekonomi, maka Mahasiswa yang hendak berorganisasi ke dalam organisasi ekstra kampus akan terdistribusi dengan skala fluktuatif. Ketika zaman telah dihinggapi penyakit hedonisme maka paradigma yang terbangun adalah organisasi yang akan digeluti tersebut rame atau asyik untuk di tongkrongi. Suatu tantangan yang harus dijawab oleh aparatur organisasi, yaitu tetap menawarkan organisasi dengan bungkus yang menarik dan dalam prosesnya budaya hedon yang melekat pada mindset kader sedikit demi sedikit dikikis oleh semangat pencerahan. Dengan tujuan kader yang tercerahkan (rausyan fikr) termotivasi oleh kesadarannya sendiri untuk melihat masa depan sebagai stimulant daripada terlena dengan arus zaman ataupun romantisme sejarah kebesaran organisasi.

Ada suatu perbedaan yang selama ini saya tangkap dari HMI dengan organisasi sejenisnya. Yaitu social learning. Konsep social learning ini memiliki sedikit kesamaan dengan social capital. Bedanya social learning berorientasi pada proses menghasilkan knowledge dan attitude sedangkan social capital lebih berorientasi pada aspek-aspek struktural sosial untuk memproduksi. Social learning adalah konsep pembelajaran yang melibatkan elemen yang jauh lebih luas dari sekedar pembelajaran individual. Ia menuntut kualitas interaksi individual, antar kelompok dalam organisasi dan kualitas interaksi HMI dengan elemen di luar dirinya. Learning adalah perubahan dalam pola pikir, dan juga perubahan dalam memikirkan kembali tindakannya.(ibid. halaman 2). Kader yang menyadari pentingnya social learning akan beranggapan bahwa semua tempat adalah sekolah, semua orang adalah guru dan segala peristiwa adalah pelajaran (pemulung hikmah). Konsep inilah yang menciptakan unique knowledge yang menjadi sumber kreasi yang jarang ditiru oleh organisasi sejenisnya.

Kreatifitas HMI tidak terhambat oleh kekangan kultur dan tradisi sebuah golongan dalam artian HMI tidak menjadi underbow golongan maupun partai manapun, kecuali Islam dan Indonesia dengan kesadaran dalam menjaga independensitas secara keorganisasian dan keindividuan.

Kesadaran akan Agama Islam sebagai fitrah yang diwahyukan (Ibnu Taimiyah) akan mengambil peran sebagai kekuatan mengakar yang kokoh dalam proses belajar dalam dimensi ruang dan waktu yang dinamis. Karena, Islam mengajarkan Tauhid yang bernilai universal, maka konsekuensinya adalah tidak ada batasan ruang dan waktu bagi kita untuk memetik pengetahuan. Kesadaran tidak akan lahir jika tidak dalam keadaan yang bebas (Independen). Karena, keterpaksaan menerima suatu ajaran adalah bentuk pengurungan terhadap kemungkinan-kemingkinan kebenaran lain yang lebih tinggi dan universal, dengan kata lain pengurungan terhadap kecendrungan pencarian pengetahuan adalah klaim yang berujung pada pertempuran kebenaran yang stag dan sempit.

HMI sangat berpotensi untuk terus bertahan dalam kurun waktu yang relatif panjang jika tetap menjaga independensinya dan independensi individu kadernya. Dengan tetap melihat asas skill, idealisme dan pengetahuan yang relevan pada setiap zaman. Karena, skill tanpa idealisme akan menghasilkan pragmatisme yang dangkal. Skill dan idealisme tanpa pengetahuan terhadap kebutuhan zaman adalah kemubaziran, sedangkan dalam Islam sifat yang mubazir sangat dihindari.

Muhammad Nor Abdi (HMI Komisariat Fakultas Syari’ah IAIN Antasari Banjarmasin)

Lowongan Fasilitator PPSP 2011

Dibutuhkan tenaga pendamping di 15 provinsi dan 76 kabupaten/kota di Indonesia yang terlibat dalam pelaksanaan Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) tahun 2011.

Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (POKJA AMPL) Nasional, suatu wadah adhoc lintas departemen yang beranggotakan perwakilan dari BAPPENAS, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perindustrian, Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Kementerian Negara Perumahan Rakyat dan Kementerian Keuangan, akan melaksanakan Program Nasional Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP) 2010-2014. Continue reading “Lowongan Fasilitator PPSP 2011”

Lowongan STAF PROGRAM AUDIT GENDER

Untuk Wilayah Sulawesi dan Nusa Tenggara
KAPAL Perempuan (Lingkaran Pendidikan Alternatif Perempuan)

Kualifikasi dan Persyaratan:

  1. Berpengalaman minimal 3 tahun bekerja dalam program yang terkait dengan advokasi kebijakan publik;
  2. Memiliki pengalaman melakukan advokasi kebijakan dan penganggaran untuk isu-isu pelayanan publik, termasuk isu perempuan;
  3. Memiliki pemahaman dan kemampuan melakukan analisa gender terhadap kebijakan dan penganggaran program pelayanan publik;
  4. Memiliki pengalaman berjaringan dengan berbagai pihak yang terkait dengan advokasi kebijakan dan penganggaran;
  5. Memiliki kemampuan berbahasa Inggris, baik secara lisan maupun tulisan;
  6. Bisa bekerja dalam tim, terbuka, mandiri dan mempunyai motivasi tinggi;
  7. Bersedia melakukan perjalanan keluar kota. untuk koordinasi dengan tim daerah.

Kirimkan lamaran anda melalui email atau pos ke alamat di bawah ini:

  1. Pos: Jl. Kalibata Utara I No.18 Jakarta Selatan, 12750. telfon: 021-7988875.
  2. Email: office@kapalperempuan.org  dan di-cc-kan ke Ulfa Hidayati, email: ulfa.kapal@gmail.com

Berkas lamaran yang dikirim berupa:

  1. Surat lamaran dilengkapi dengan alamat surat, email, dan telfon
  2. CV (Curriculum Vitae)
  3. Foto terbaru ukuran 4X6 : 1 lembar
  4. Copy ijazah terakhir dan daftar nilai
  5. Minimal 2 surat rekomendasi dari pihak-pihak yang pernah bekerja sama dalam melakukan advokasi kebijakan dan penganggaran untuk isu-isu pelayanan publik dan perempuan

Lamaran diterima selambat-lambatnya tanggal  18 Maret 2011. Untuk mempermudah proses, cantumkan alamat surat yang mudah dihubungi secara lengkap, disertai telpon/ handphone dan email.

HMI Akan Tetap Merawat Kemandiriannya

HMI akan tetap merawat independensi. Sampai kapan pun. Bagi HMI indepedensi itu merupakan ciri dan karakter.

Ada “kado” khusus yang dipersembahkan buat HMI dalam memperingati usia emasnya, 50 tahun, pada 5 Februari lalu. Yang pertama, diresmikannya Gedung Insan Cita (GIC) yang merupakan tempat HMI nanti beraktivitas sehari-hari. Kado kedua, acara peringatan dies natalis HMI itu dibuka dan dihadiri Presiden Soeharto. Tapi, bertepatan dengan hari peresmian GIC, Kelompok Cipayung membentuk Forum Kebangsaan Pemuda Indonesia (FKPI) tanpa HMI berada di dalamnya.

Ini memang bukan “kado baik” untuk HMI. Karena HMI adalah salah satu penggagas awal Kelompok Cipayung. Sehingga muncul penilaian, bahwa hubungan HMI dalam Kelompok Cipayung sekarang kurang seiring. Namun, Ketua Pembinaan Aparat Organisai PB HMI, Aspianor Sahbas (30 tahun), membantah penilaian itu. “Kehadiran mereka dalam acara dies natalis HMI menunjukkan bahwa diantara Kelompok Cipayung itu tidak terjadi apa-apa,” kata alumnus FKIP Unlam ini kepada Hani Pudjiarti dan Mustafa Ismail dari TEMPO Interaktif yang mewawancarainya Kamis pagi (27/3) lalu di Kantor PB HMI Jalan Diponegoro, Jakarta. Berikut petikannya:

Bagaimana perkembangan HMI selama 50 tahun?

Sejak dilahirkan 5 Februari 1947, tujuan HMI adalah untuk mempertahankan keadaan negara Republik Indonesia yang sudah merdeka pada 17 Agustus 1945. HMI menyumbangkan siar Islam di negeri tercinta ini. Perkembangan selanjutnya karena HMI sebagai organisasi perjuangan tentu untuk meningkatkan kualitas mahasiswa, maka yang ditingkatkan ada pada proses pengkaderan. Kaderisasi merupakan inti program HMI dalam mencapai tujuan yang dicanangkan sejak berdirinya HMI. Karena tidak semata-mata sebagai organisasi perjuangan, kita mulai berperan pada kehidupan masyarakat dan kebangsaan. Ini sebagai perkembangan yang muncul di masyarakat sebagai tanda sejak berdirinya banyak tokoh-tokoh HMI yang terlibat perjuangan fisik di akhir tahun lima puluhan. Di tahun 1966 secara organisatoris HMI aktif bersama komponen masyarakat menumpas G30S-PKI. Sampai saat ini HMI sudah cukup banyak mendistribusikan kader-kadernya di kalangan swasta, birokrat, berbagai sektor kehidupan pembangunan.

Selain pengkaderan program andalan lainnya?

Kalau program andalan ya sistem pengkaderan tadi. Bentuk lain partisipasi terhadap urusan-urusan pembangunan, perguruan tinggi bidang kemahasiswaan tetap ada, bidang kewanitaan dan bidang kekaryaan.

Benarkah HMI memotivasi anggotanya menjadi tokoh seperti beberapa alumninya di kabinet?

Mungkin salah satunya itu. Salah satu pengalaman saya yang memotivasi masuk HMI karena melihat orang-orang yang masuk HMI banyak jadi tokoh. Tetapi tidak semua yang masuk HMI termotivasi itu, bisa saja karena pacarnya ada di sana dia ikut masuk. Kalau dalam proses perjalanannya jadi tokoh itu soal lain. Jadi banyak faktor motivasi untuk masuk HMI. Motivasi lainnya karena kelihatan banyak senior membantu yuniornya dalam proses perkuliahan. Misalnya membantu memberikan diktat-diktat yang dikasihkan ke kita. Motivasi lain terbantu dalam proses perkawanan, ketenangan pribadi karena ada nilai-nilai keagamaan.

Hubungan HMI dengan alumni?

Kalau mau dikatakan peran alumni dan senior banyak membantu menopang semua kegiatan HMI. Dan itu dilakukan atas dasar tolong-menolong bukan paksaan atau keharusan. Ini terus terjadi sampai hubungan kami ke yunior-yunior kami. Begitupun sebaliknya.

Selama 50 tahun apa saja kendala HMI?

Banyak, pertama kalau dilihat sebagai organisasi kepenjuangan kondisi sekretariat saja seperti sekarang ini. Tapi alhamdulillah belum lama ini kita baru saja meresmikan gedung Graha Insan Kencana (yayasan ini diketuai Akbar Tanjung dan didanai KAHMI, Red.) di Depok. Dan mudah-mudahan akan membuka semangat baru bagi adik-adik HMI yang akan melanjutkan kepemimpinan HMI di masa mendatang. Saya kira kendala-kendalanya terlihat dari sangat terbatasnya fasilitas-fasilitas yang dimiliki HMI. Padahal sarana ini sangat penting untuk menunjang kegiatan HMI dalam pengkaderan dan sumber daya manusia.

Soal kader ini rupanya tumpuan utama program HMI? Apakah agar banyak orang HMI di sekitar kekuasaan?

Kami banyak melakukan pelatihan. Memang dalam traning-traning HMI dulu itu ada latihan kepemimpinan. Jadi tujuannya mencetak calon-calon pemimpin. Calon-calon pemimpin ini yang menjadi tokoh. Tapi dalam perjalanannya, bisa saja mereka mengarah dalam bidang lain. Mereka ada yang menjadi wirausahawan, menjadi tokoh politisi, tokoh agama. Kita menempatkan sesuai dengan konsep HMI bahwa manusia itu khalifah fil ardhi, sebagai pemimpin di muka bumi ini.

Belakangan banyak yang menyoal independensi HMI, menurut Anda?

HMI akan tetap merawat independensi. Sampai kapan pun. Bagi HMI indepedensi itu merupakan ciri dan karakter.

Termasuk kepengurusan HMI sekarang yang dituduh dekat pemerintah itu?

Independensi itu ada dua. Pertama indepensi organisatoris. Indepensi organisatoris ini menegaskan bahwa HMI ini bukan onderbouw salah satu kekuatan politik. Jadi ia tidak dibawah Golkar, tidak dibawah PPP, dan tidak di bawah PDI, juga tidak dibawah ormas lain. Yang kedua idepedensi etis. Independensi etis ini merupakan kebebasan HMI untuk mempertahankan suatu sikap terhadap kebenaran yang ingin diperjuangkan. karena, itu HMI tidak akan apriori terhadap sesuatu masalah, juga tidak akan terlalu berpihak. Sepanjang itu untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran akan berpihak kesana.

Ada yang mengatakan HMI itu kurang respek terhadap persoalan-persoalan yang muncul. Tidak seperti Kelompok Cipayung lainnya. Misalnya dalam menanggapi kasus 27 Juli, Situbondo atau Tasikmalaya. Bagaimana itu?

Peristiwa 27 Juli ada perbedaan penghayatan. Itu ‘kan kasus PDI. Itu persoalan intern PDI. Karena itu kita tidak ingin terlalu jauh terlibat dalam politik praktis. Yang sangat pragmatis sekali persoalannya. Pernah juga ketika terjadi pertentangan Naro dengan Sudardji, kita tidak membicarakan itu dengan kawan-kawan Kelompok Cipayung. Tetapi persoalan-persoalan lain yang menyangkut nasib rakyat banyak, misalnya kasus korupsi Eddy Tansil, yang itu tidak dilakukan oleh ormas-ormas lain. Kita melakukan. Sampai ribuan orang kita kerahkan untuk aksi-aksi itu. Kasus putusan MA di Irian Jaya, kita sampai turun ke jalan. Itu merupakan bagian dari suara-suara kritis HMI yang tetap dirawat. Kalau kasus 27 Juli, kita melihatnya sebagai rangkaian politik praktis. Kita tidak mau terlibat di dalam itu. ‘Kan temporer sekali kasusnya.

Dalam kasus Eddy Tansil, bukankah memang pemerintah memukul gendang “perang” terhadap Eddy Tansil dan kemudian HMI sepaham dengan sikap itu?

Kasus Irian misalnya, itu ‘kan sangat bertentangan. Nah, itu kalau soal korupsi, kita ‘kan tidak tahu. Kalau datanya ada kita akan tampil. Sekali lagi saya tegaskan, bahwa Ketua Umum HMI di depan kepala negara ketika dies natalis bilang bahwa HMI akan tampil ke depan memprotes bila pemerintah korup dan menyeleweng.

Tapi bukankah dalam Kasus 27 Juli ketika banyak kelompok mahasiswa dan ormas lain menyatakan keprihatinannya, HMI tidak ikut serta, mengapa?

Kawan-kawan itu ‘kan sudah dari awal ikut dalam proses itu. Kasus 27 Juli itu kan puncak. HMI tidak mau masuk ke wilayah itu. Nah, ketika peristiwa itu muncul kita mengeluarkan statemen bahwa kedua-duanya harus ditindak itu. Tapi tidak bersama kawan-kawan Kelompok Cipayung.

Yang sudah kita keluarkan statemen itu mengenai Eddy Tansil, Kasus Departemen Perhubungan. Tetapi pernyataan mengenai mobnas belum kita keluarkan. Itu baru sampai pada diskusi di kalangan interen kita. Ada hal-hal yang hanya dikonsumsi untuk kader HMI dan ada yang kita keluarkan pernyataan.

Jelasnya?

Kalau sesuatu itu dapat memecah belah persatuan negara, tentu kita lebih hati-hati. Tetapi kalau itu menyangkut kepentingan masyarakat keseluruhan, kita akan lebih kuat menanggapinya.

Dana Dies Natalis kemarin ini begitu besar, darimana?

Kalau acaranya besar, tentu dananya juga besar. Soal dana ini dari alumni ke alumni saja. Di Jakarta ini ‘kan alumni HMI ada sekitar seribuan lebih. Kita kumpulin dari alumni-alumni itu dan juga KAHMI.

Berapa besarnya?

Kurang dari 500 juta. Karena dies natalisnya untuk ribuan orang, wajar dana yang dipakai segitu.

Kemudian untuk dana operasional harian HMI darimana?

Yang paling rutin itu, ya, dari Bang Akbar (Akbar Tanjung, Red.), Bang Soegeng Sariadi, Bang Fahmi Idris, Ekki Syahruddin, Mar’ie Muhammad, dan seterusnya.

Apa pertimbangan mengundang Pak Harto pada acara Dies Natalis HMI?

Bukan hanya sekali ini Pak Harto menghadiri acara HMI. Dua tahun yang lalu juga Pak Harto hadir di sana. Pertimbangannya, karena ini perayaan emas lima puluh tahun HMI, kita ini merayakan kebahagiaan bersama-sama dengan kepala negara.

Bagaimana Anda menilai keberhasilan pembangunan Orde Baru?

Relatif sekali kalau kita menilai kemajuan-kemajuan. Sekarang ‘kan relatif lebih baik dari pada sebelum-sebelumnya. Kalau ada kekurangan ya wajar saja.

Tolok ukurnya apa?

Jumlah rakyat miskin sekarang berkurang. Kalau dulu masyarakat miskin hampir mencapai 30 juta, sekarang tinggal sekitar 21 juta. Itu suatu keberhasilan.

Bukankah kesenjangan masih lebar?

Ya, kesenjangan memang harus kita atasi. Tidak semata-mata tanggungjawab pemerintah. Semua kita mesti bersama-sama mengatasinya.

Selama ini banyak yang mengatakan HMI tergantung dari KAHMI?

HMI dengan KAHMI kan hanya hubungan historis. Jadi kalau toh, ada kritikan-kritikan terhadap kedekatan HMI dengan KAHMI itu hanya implikasi saja. Yang jelas, HMI itu harus kerja keras untuk mendapatkan dana. Kalau ada alumni-alumni HMI yang membantu, itu merupakan wujud tanggungjawab mereka terhadap HMI, terhadap adik-adiknya. Dan kalau pun ada bantuan-bantuan dalam bentuk lainnya, juga para alumni melihat potensi-potensi dari kader HMI itu sendiri. Tidak mungkin seorang alumni memberi satu proyek, misalnya, kepada seseorang kader yang tidak teruji kemampuannya.

Apakah hubungan itu tidak mengekang HMI?

Konsep kita ‘kan saling tolong-menolong. Dan saya kira mereka, para alumni ikhlas untuk membantu. Tidak pernah mereka membawa-bawa HMI menjadi suatu alat untuk kepentingan mereka.

Apa kritik Anda terhadap pemerintah?

Sebenarnya yang perlu kita kritik itu ‘kan sistemnya. Misalnya kesempatan berusaha. Kalau sistemnya baik dan berjalan saya kira tidak ada masalah. Dengan demikian diperlukan kedewasaan dalam masyarakat untuk melihat. Karena kalau masyarakat belum dewasa, sistem yang baik pun jadi kurang artinya.

Tidakkah sistem itu sendiri kurang terbuka?

Sekarang sudah ada kemajuan. Dalam penyusunan GBHN misalnya, dulu itu ‘kan di tingkat MPR. Tetapi sekarang dikembalikan kepada fraksi-fraksi. Keberanian masyarakat untuk melontarkan kritik terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah juga merupakan bagian dari pada itu.

Hasilnya bagaimana?

Itu bukan persoalan hasil. Yang penting kemauan itu telah ada. Saya kira hasil itu nomor dua.

Bukankah kritik sering ditabukan dan ditanggapi secara frontal?

Itu menandai ketidak-dewasaan orang-orang yang tidak bisa menerima kritik itu.

Maksud Anda pemerintah?

Pemerintah saya kira. Ada orang-orang yang tidak siap untuk itu.

Tapi, kenapa HMI tidak mendukung Pak Harto untuk periode 1998-2003?

Tidak ada dalam budaya kita persoalan dukung mendukung itu. Itu menyangkut independensi. HMI tidak akan memenuhi satu keinginan atas kehendak dari mana pun. Itu sesuatu yang tabu bagi HMI. Secara etis tidak dibenarkan. Komitmen kita bukan kepada orang tapi kepada nilai.

Bagaimana tanggapan HMI sendiri mengenai kemungkinan terpilihnya kembali Pak Harto?

Saya kira masyarakat sampai saat masih menginginkan beliau. Tidak ada saat ini yang secara terbuka menolak beliau. Bagi HMI, kita serahkan saja kepada lembaga yang ada.

HMI sendiri apakah punya calon-calon anggota DPR?

Ada beberapa.

Berapa jumlah anggota HMI?

Sekitar 250 ribu yang aktif. Kalau semuanya, sekitar lima ratus ribuan.

Menurut Nurcholis Madjid, HMI sekarang kurang peka terhadap sekelilingnya, mengapa?

Cak Nur orang yang sangat arif dalam melihat persoalan-persoalan HMI. Kalau beliau menginginkan HMI itu maju, itu selalu dicambuk. Tetapi saya kira kalau kita bicara dari hati ke hati, saya kira Cak Nur akan mengatakan HMI merupakan organisasi paling baik diantara organisasi massa mahasiswa lainnya.

Hubungan HMI dengan Kelompok Cipayung itu bagaimana?

Kelompok Cipayung itu merupakan sebuah organisasi yang non formal. Kalau ada masalah-masalah kita akan kumpul. Dalam perjalanannya dinamika itu tetap ada. Bagi anggota Kelompok Cipayung membentuk sebuah kelompok baru, tidak ada masalah. Nanti pada saat lain kita akan ketemu dan bersama lagi.

HMI tidak merasa ditinggalkan dalam pembentukan FKPI?

Tidak. Kita tidak merasa ditinggalkan. Antara kita tidak ada masalah. Kita tidak ditinggalkan, mereka juga tidak kita tinggalkan.